Bandung TerkiniBerita TerkiniSosok

Ayahku, Pahlawan Tak Tergantikan

Syukur terdalam, mari senantiasa kita haturkan kepada Rabb Semesta Alam. Selawat serta salam, semoga senantiasa terlimpah kepada pejuang sepanjang zaman, seorang profil Ayah inspiratif di muka bumi, Rasulullah Muhammad Saw.

Bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan adalah sosok Ayah. Keberadaannya, memenuhi ruang rasa, menembus kebutuhan anggota keluarga, menjadi penopang tanggung jawab dunia dan akhirat. Tak salah, jika terintegrasinya sekian bentuk kasih sayang seorang Ayah, kita istilahkan dengan multiperan. Peran sebagai kepala keluarga, peran sebagai penyokong motivasi, peran sebagai reviewer akhlak dan adab keluarga, peran sebagai pemberi rasa aman, dan seterusnya. Itulah serangkaian keterlibatan sosok Ayah dalam kehidupan.

Bahkan sekian profil Ayah teladan, hadir semacam diorama dalam rangkaian ayat Qur’an. Kita bisa memaknai surat Luqman ayat 13-19 yang memberi highlight kepada kita tentang ketaatan kepada Rabb Sang Pencipta. Demikian pula Qur’an surat An-Nahl ayat 120 telah mengabadikan kesalehan seorang sosok Nabi Ibrahim sang Ayah teladan.

Ayah Bunda yang dirahmati Allah.

Sebagai bagian dari kehidupan, maka berlaku hukum sebab akibat bahwa semua terlahir karena adanya sosok Ayah. Bahkan bagi di antara kita atau di antara anak kita yang harus tertakdir berpisah dari Ayah, semua tetap bagian dari sebab adanya Ayah. Maka kebersyukuran dan keberterimaan menjadi keniscayaan, di mana peran Ayah itu nyata.

Dan di luar keniscayaan sebab tersebut, hadirnya Ayah juga bagian dari fase fitrah pernikahan, di mana pernikahan itu sendiri adalah bagian dari komponen kesimbangan hidup umat Islam. Dari Abdullah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: ‘Wahai para pemuda, barang siapa dari kalian yang memiliki kemampuan, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya menikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara farji (kemaluan). Barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu merupakan benteng baginya.” (HR. Muslim)

Artinya, dari cinta sepasang manusia bernama suami istri, diikat dalam rumah tangga yang berekspektasi keberkahan, yang kemudian bersama-sama menmepuh tugas pengasuhan. Tentu saja, tugas pengasuhan di jalan Allah Swt.

Dan  salah satu indikator Ayah terbaik adalah adalah Ayah yang mampu menciptakan iklim emosi, di mana salah satu upayanya adalah dengan menghadirkan pola pengasuhan terbaik. Hal ini selaras dengan teori pola asuh Baumrind (1966), yang menggarisbawahi tiga aspek gaya pengasuhan (otoritarian, otoritatif, dan permisif).

Hal tersebut menegaskan kepada dunia bahwa pengasuhan bukan saja terbatas sebagai peran Ibu. Namun sebuah peran kolaboratif yang tujuan akhirnya adalah menyelamatkan keluarga baik di dunia maupun di akhirat, di mana muaranya adalah surga abadi. Wajar jika kita hadiahkan padanya, julukan “important person” atau “important figure”.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Guelph pada 2002 dan dipublikasikan melalui Father Involvement Initiative-Ontario Network newsletter, menyatakan bahwa Ayah yang banyak meluangkan waktu untuk membangun dialog dengan anaknya dapat meningkatkan kemampuan bahasa sang anak hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. (Reader’s Digest dalam Wijayanti: 2013).

Hal tersebut, lagi-lagi sebuah pembuktian bahwa peran dan sosok Ayah tak sekadar silsilah dan tak sekadar pula penjamin ekonomi keluarga sebagaimana konsensus yang selama ini melekat di masyarakat. Melainkan bagaimana peran dasar sebagai pencari nafkah itu dihidupkan dengan peran-peran positif lain yang sama sekali tidak menurunkan takaran wibawa seorang kepala keluarga. Karena ikatan kasih sayang, tak cukup dibuktikan hanya dengan satu bentuk sikap atau tindakan yang parsial.

Selamat Hari Ayah, bagi para Ayah di mana saja berada. Semoga semesta senantiasa merekam setiap helai kebaikanmu. Meski tak mudah untuk menjadi Ayah yang menginspirasi, namun keikhlasan dari dasar hati untuk mengekspresikan kasih sayang kepada anggota keluarga, adalah energi yang menguatkan.

Mari terus menjadi Ayah yang penuh tanggung jawab. Mari terus menjadi Ayah yang mengokohkan keluarga. Karena kokohnya keluarga adalah dasar kokohnya negara.

Related Articles

Back to top button
%d bloggers like this: