Berita TerkiniNasional

Heboh Guru Madrasah Beragama Non Muslim dan Tak Berhijab, Ini Kata Kemenag!

BANDUNG – Heboh di dunia maya jika ada guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang beragama non muslim. Guru tersebut merupakan guru mata pelajaran geografi yang mengajar di MAN Tana Toraja, Sulawesi Selatan, bernama Eti Kurniawati.

Melihat dan mendengar kabar tersebut, para netizen Indonesia beramai-ramai mempertanyakan apakah boleh seorang guru non muslim mengajar di sekolah berbasis agama. Menanggapi persoalan tersebut, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Muhammad Zain menjelaskan jika hal tersebut dimungkinkan secara regulasi.

“Untuk guru mata pelajaran umum di madrasah, regulasi mengatur bahwa itu bisa juga diampu oleh guru dari agama lain,” ungkap Zein, dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin (01/02/21).

Guru mata pelajaran umum bisa dari berbagai agama meskipun dalam cangkupan madrasah, kecuali untuk guru mata pelajaran agama di madrasah memang harus beragama Islam. Karena mata pelajaran agama yang ada di madrasah sangat  beragam, seperti Aqidah Akhlak, Al Quran Hadits, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab.

“Hal itu sejalan dengan regulasi sistem merit,” lanjutnya.

Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen SDM yang berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar, tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan merit yang diatur dalam regulasi.

Hal ini diatur dalam UU No 5 tahun 2014 tentang ASN, Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2017 jo Peraturan Pemerintah No 17 tahun 2020 tentang Manajemen PNS, Permenpan No 23 tahun 2019 tentang Kriteria Penetapan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil dan Pelaksanaan Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2019, dan Perka BKN No 14 tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Pengadaan PNS.

Zain menjelaskan, Pasal 23 ayat (1) PP 11 tahun 2017 misalnya, mengatur bahwa setiap warga negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi PNS dengan memenuhi persyaratan.

Persyaratan tersebut antara lain: usia 18 – 35 tahun, tidak pernah dipidana, tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat, tidak menjadi anggota atau pengurus partai politik, memiliki kualifikasi pendidikan sesuai dengan persyaratan jabatan, sehat jasmani dan rohani, bersedia ditempatkan di mana saja.

Kemenag akan terus melakukan evaluasi agar proses pembelajaran menjadi lebih baik lagi dan semakin berkualitas. Tak hanya di madrasah, ada beberapa sekolah keagamaan lain yang mempekerjakan CPNS atau guru yang berbeda agama.

Related Articles

Back to top button
%d bloggers like this: