Bobotoh

Ini Pertandingan Bola atau Sirkus?

Beragam komentar dan respon mewarnai lini masa media sosial usai kekalaan Timnas Indonesia di hadapan pendukungnya.

Ada yang menyatakan, kekalahan ini murni factor pelatih. Simon tak secerdik pendahulunya, apalagi coach Riedl. Pemain berkuaitas tak optimal. (Dodi Mawardi)

Ada yang berpendapat lain. Sepertinya chemistry antar pemain belum terbentuk. Sangat disayangkan karena materi pemain semuanya bagus-bagus. (Putu Adnyana)

Pelatih Malaysia lebih pandai membaca situasi petandingan. (Lik Rudy)

Sementara pengamat sepak bola Anton Sanjoyo berpendapat bahwa kualitas kompetisi menentukan mutu permaina Timnas. Gak bisa bohong. Menit 50 udah pada tolak pinggang. Kek gw abis lari 10k trus rasanya pengen muntah.

Seorang wartawan olah raga, Titis Widyatmoko mengonteri permainan Timnas yang bikin penontonnya cemas. “Sudah lama gak nonton Timnas, sekalinya nonton deg-degan” (Titis Widyatmoko)

Semua pendapat mereka benar. Meski saya sendiri punya pendapat lain.

Menurut saya, bahkan jauh sebelum laga kontra Malaysia. Pada saat awal penunjukkan Simon Mc Menemy oleh PSSI. Saya agak heran kenapa pelatih asal Scotland itu banyak memanggil pemain yang sudah tidak muda lagi. Betul bahwa banyak pemain di atas 29 tahun yang mash bagus. Namun kalau menurut saya seharusnya pelatih memprioritaskan pemain muda.

Keuntungan dengan memanggil pemain-pemain muda adalah pertama secara stamina dan enduren jelas lebih bagus dan kedua, bisa untuk membangun skuat Timnas untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Terkecuai Alberto Beto Goncalves. Sebagai gol geter, dia memang masih layak dan sangat di perlukan. Namun pemain-pemain yang lain, mengapa tidak memberi kesempatan pemain-pemain muda?

Coba review lagi laga lawan Malaysia barusan. Babak pertama masih oke-oke saja. Setelah masuk babak kedua. Umpan-umpan mulai salah dan tidak akurat. Sedikit-sedikit pemain gampang jatuh. Adu sprint kedodoran. Dan saya sependapat dengan Bung Yuke (Yusuf Kurniawan – Komentator di TVRI) bahwa hampir semua pemain melakukan kesalahan sendiri.

Saya sampai bingung liat para pemain Timnas bermain kok sampai sempoyongan. Jelas terlihat ini factor endurance pemain yang sangat rendah. Pertanyaan saya yang kemudian tercetus adalah, siapa pelatih fisiknya?

Hal berikutnya adalah gaya para pemain Timnas yang juga bikin saya bingung lagi. Dimulai dari gaya Andritany dan Hansamu yang entah bagaimana ceritanya karena pas gak disorot kamera. Tahu-tahu, wasit asal negeri Gingseng meminta kipper Persija itu harus mengulang tendangan gawang.

Setelah itu, sering terlihat para pemain khususnya pemain belakang bermain-main nyrempet-nyerempet bahaya dengan memainkan bola di depan gawang sendiri.Dan itu sangat sering dilakuka. Terlebih saat sudah unggul 1-0 dan kemudian 2-1. Bahkan saat kedudukan 1-1 dan 2-2 pun mereka masih sering melakukan hal yang sama.

Maka tak heran jika akhirnya Malaysia mampu mencetak gol di menit-menit akhir dan laga pun berakhir dengan skor 3-2 bagi kemenangan Hariau Malaya.

Saya pikir ini saya sedang nonton sepak bola atau nonton sirkus ya? Kok pemain banyak gaya dan sepanjang permainan penonton selalu dibuat deg-degan?

Salam olah raga,
Tetap Dukung Timnas Indonesia

Related Articles

Back to top button
%d bloggers like this: