Bandung Terkini

Jelang 1 Tahun Kempemimpinan Mang Oded-Yana Sudah Terasakah di Masyarakat?

Belum Terasa bukan berarti Tidak Bekerja!

Oded-Yana (OYA) belum bisa kita evaluasi karena kinerjanya belum ada yang menonjol. Padahal, tantangan yang dihadapi OYA lumayan berat. Namun, bukan berarti tak ada progres sama sekali. Berprogres, namun lambat dan banyak menginjak rem.

Untuk itu saya hendak meminjam opini menarik yang dilontarkan oleh salah satu narasumber pada FGD yang dihelat oleh PD KAMMI Kota Bandung kemarin, Pak Muradi. Beliau mengatakan, OYA belum bisa kita evaluasi karena belum ada kinerjanya terlalu menonjol padahal, Kota Bandung memiliki tiga tantangan besar.

Tiiga tantangan yang harus dihadapi oleh OYA itu ialah; Mewujudkan Bandung sebagai Kota Malegapolitan, Kota Cagarbudaya, dan Kota Pelajar.

Ada beberapa hal yang kami dapati pada diskusi tersebut yang mungkin mengakibatkan OYA melaju lambat dan banyak menginjak rem.

Yang cukup menyita perhatian di tengah perjalanan Mang Oded ialah saat dilantik, OYA langsung berhadapan dengan perhelatan demokrasi Nasional, Pemilu Nasional plus Pilpres. Isu ini cukup menyita perhatian dan mengakibatkan melambatnya laju kendaraan.

Selain itu, ada tiga isu yang juga cukup mengundang perhatian publik yang juga mengakibatkan melambatnya laju kinerja. Pertama, GBLA yang ternyata perjalanannya secara hukum maupun bisnis belum tuntas, kemudian, kursi panas sekda, dan terakhir dirut BUMD yang menjadi tersangka.

Namun, dalam perjalannnya selama satu tahun, di bawah kepemimpinan Mang Oded dan Kang Yana, Pemkot Bandung memperoleh total 107 penghargaan. Dengan rincian, 31 penghargaan regional, 74 nasional, 2 internasional. Untuk pencapaian ini, kita patut mengapresiasi kinerja kepemimpinan OYA.

Dari aspek program, Mang Oded dan Kang Yana juga memberikan perhatian yang cukup pada isu lingkungan. Tak hanya merawat fasilitas yang sudah dibangun sebelumnya, OYA juga menggulirkan “pendidikan mental” bagi warga lewat Kang Pisman meski tak dipungkiri, progresnya belum memuaskan. Dari 151 kelurahan, Kangpisman baru eksis di 8 kelurahan.

Juga dalam aspek integritas pemerintahan, sejak digulirkan opini WTP, artinya sejak 2008, baru pada mas kepemimpinan OYA-lah, Bandung bisa mendapatkannya. Hal ini cukup mencerminkan apiknya kepemimpinan Mang Oded dalam mengelola keuangan daerah.

Namun, untuk menjawab 3 tantangan besar yang disampaikan Pak Muradi di atas, ‘laju’ kinerja OYA belum cukup. Belum lagi, tantangan menghadapi laju demografis di Kota Bandung. Jika pemkot dapat optimal memberdayakan, justru akan menjadi benefit bagi Kota Bandung. Sebaliknya, akan menjadi beban sosial yang besar.

Untuk itu, saya menangkap beberapa insight/ masukan pada diskusi kemarin yang menurut saya bisa dipertimbangkan oleh OYA untuk menjadi kebijakan dalam rangka mengakselerasi kinerja dan meningkatkan capaiannya.

Pertama, Mang Oded selaku kader PKS akan sangat diuntungkan dengan menangnya PKS di Kota Bandung.

Kedua, fokus pada pengembangan wisata di Kota Bandung karena 40{2e78e4e1228406c9c5a7ffbe22dd4c8dc80cefa142e1a710e27d96187cbbf30b} PAD, dari sektor pariwisata. Keamanan dan kenyamanan merupakan kunci untuk meningkatkan kinerja pada sektor ini.

Ketiga, OYA harus memberikan sentuhan, huluran tangan pada sektor entrepreneurship karena warga Bandung bisa hidup karena entrepreneur. Saya lihat OYA belum memberikan kadar perhatian dan sentuhan yang cukup pada sektor ini. Idenya ada, namun masih lambat.

Keempat, PR-PR yang menghambat harus segera diselesaikan. Birokrasi hendaknya 5 Agustus ini selesai. Birokrasi ini terlihat belum mengakomodir semua pihak. Urusan sekda, harus dituntaskan bulan Agustus juga. GBLA harus segera jelas duduk perkaranya untuk cepat dituntaskan pembangunannya.

Langkah selanjutnya, Bandung siap melaju kencang menggapai tantanga besar. Bandung sebagai kota Megapolitan harus siap dengan segala infrastrukturnya, LRT, MRT, kereta gantung dan lain sebagainya. Dengan begitu, warga masyarakat akan bergerak lebih cepat dan leluasa.

Sebagai cagar budaya, Bandung harus bisa menumbuhkan bibit-bibit budaya lokal. Bisa dimulai dengan memberi ruang lebih lebar pada merk-merk yang sudah eksis sebelumnya. Semisal P-project dan saung angklung Udjo.

Terakhir, sebagai Kota Pelajar. Bandung harus bisa memfasilitasi ruang imajinasi para kreatif pelajat muda Kota Bandung. Bandung punya potensi DNA yang bagus tuk menumbuhkan pelajar-pelajarnya. Bisa dengan pendekatan budaya dipadupadankan dengan ruang kreasi seluasnya

source: Facebook Iman Lestariyono

Related Articles

2 Comments

  1. Hi! I know this is kinda off topic but I was wondering which blog platform are you using for this site?
    I’m getting fed up of WordPress because I’ve had problems with
    hackers and I’m looking at options for another platform.

    I would be fantastic if you could point me in the
    direction of a good platform.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
%d bloggers like this: